Saturday, 9 February 2013

8 Place I Want to Visit!

1. Mekkah Al Mukaromah
Tempat ini tentu menjadi tempat yang sangat diidam-idamkan umat muslim di seluruh dunia. Betapa tidak? Setiap harinya tempat ini tidak sepi oleh pengunjung, dan setiap tahunnya, umat muslim di seluruh penjuru dunia berbondong-bondong mengunjungi tempat ini untuk menunaikan ibadah haji, salah satu ibadah dalam Rukun Islam yang wajib dilakukan jika mampu. Tak terkecuali bagiku. Setiap melihat Masjidil Haram, masjid terbesar di dunia ini, pasti selalu terbayang, kapan ya aku bisa ke sana? Di dalam Masjidil Haram tersebut, terdapat bangunan Ka'bah yang dipercaya tersambung dengan 'Arsyi, singgasana Allah swt. So, tempat ini menjadi tempat idaman pertamaku, dimana nantinya aku bisa berhaji dengan ibu atau suamiku. Amin... Bismillahirrahmanirrahim..^^

2. Gunung Mahameru
Entah karena terinspirasi dari film 5 cm atau memang dari hatiku, aku pengen banget naik gunung. Selama ini, gunung yang pernah aku naiki hanya gunung Tidar. Ya, itu pun dengan ijin orang tuaku yang ribetnya minta ampun. Tapi sungguh, aku adalah seorang yang suka sekali dengan petualangan. Tak perlu bercita-cita ke puncak gunung Jaya Wijaya, Gunung Fuji, atau Mount Everest. Bercita-cita naik ke puncak Gunung Mahameru, gunung tetinggi di pulau Jawa, ini saja pasti sudah membuat orang tertawa. Biarlah, cita-cita kan memang harus tinggi, sehingga jika cita-cita itu belum tercapai, paling tidak usahaya udah maksimal. Gambar di atas adalah gambar Ranu Kumbolo, sebuah danau yang menjadi surga bagi para pendaki Mahameru. Kenapa? Karena di sanalah para pendaki mengisi persediaan air minum mereka untuk dipertahankan sampai ke puncak. Selain itu, terdapat pula Kalimati yang terkenal dengan kehororannya. Oh, ya Mahameru ini juga merupakan tempat Soe Hoek Gie meninggal di usianya yang ke 27 lho. Bismillah, semoga aku bisa sampai ke puncak gunung itu. Tak ada yang tahu kan apa rencana Allah swt ke depannya.
3. Pulau Tidung
Mungkin ini adalah cita-cita semasa SMA yang sampai sekarang masih belum terwujud. Pertama kali aku mendengar pulau itu dari salah satu inspirasi menulisku yang sempat berlibur dengan teman-temannya ke sana. Ya, meski pulau ini terletak di Kepulauan Seribu yang notabene masih dalam lingkup pulau Jawa, tapi aku sama sekali belum bisa menikmati keindahannya secara langsung. Ya, suatu saat nanti aku ingin ke sana bersama teman-teman atau keluargaku. Iri banget melihat kakakku yang bahkan udah menginap beberapa hari di sana. Ok, I'll follow you, sist!
4. Raja Ampat
Raja Ampat mulai terkenal saat memasuki tahun 2010an saat para penyelam menemukan keindahan tersembunyi di tanah cendrawasih ini. Ya, baru kemarin aku membicarakan cita-cita kami dengan 2 orang sahabatku untuk pengabdian di tanah Papua, cita-citaku untuk menjamah tempat wisata ini menjadi membesar lagi. Lumayan kan kalau bisa mengabdi ke luar jawa sambil menikmati pemandangan yang sangat indah seperti itu. Tempat inilah yang membuatku semakin bangga pada Indonesia yang kaya akan sumber daya alamnya. Tapi, jangan lupa untuk dijaga ya! ^^
5. Palestine Hospital
Melihat apa yang terjadi di Gaza, aku ingin sekali menjadi bagian dari para relawan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) yang berangkat membantu mereka. Beberapa hari yang lalu, kakakku mendorongku untuk menjadi bagian dari mereka. Wow, ini menjadi cita-cita tersendiri buatku yang saat ini menjadi mahasiswa kedokteran. Semoga, bila Allah swt menghendaki, Kak! Miris sekali melihat anak-anak di sana yang nggak berdosa, tapi menjadi korban dari konflik Palestina-Israel. :'(

6. Munich Allianz Arena Stadium
Sebenarnya tempat yang ingin aku datangi adalah Jerman, dimanapun tempatnya asalkan di Jerman. Tetapi, melihat kemegahan stadion yang menjadi markas besar Bayern Munich ini, aku menjadi ingin mengunjungi tempat itu karena salah satu cita-citaku adalah menonton pertandingan sepak bola secara langsung di stadion. Andaikan Ozil masuk klub Bayern Munich, aku pasti akan mati-matian mendukung klub itu karena di dalamnya juga terdapat pemain-pemain Jerman favoritku, Schweinsteiger, Muller, Lahm, dan masih banyak lagi. Yak, mungkin mimpi itu tidak akan terwujud, tapi mimpi itu memberikanku semangat penuh untuk belajar dengan harapan mendapat beasiswa pendidikan ke sana, atau setidaknya bisa berbicara dengan orang jerman. Geben sie nicht auf!! ^^

7. Einsteinhaus
Sebagai penggemar Einstein, aku merasa malu saat salah seorang temanku menunjukkan tempat ini padaku. Kenapa? Karena bahkan aku sendiri tak mengetahui ada tempat seperti itu. Ckck.. Yak, tempat itu merupakan sebuah rumah yang menyimpan berbagai barang, foto-foto, dan dokumen-dokumen penting milik Einstein. Semacam museum begitulah. Ya, sebagai seorang penggemar Einstein, tentunya aku ingin mengunjungi tempat bersejarah ilmuwa legendaris itu. Selain menambah pengalaman, juga bisa menikmati pemandangan menakjubkan Swiss kan. Semoga... ^^
8. Eiffel Tower
Entah kenapa, beberapa hari ini aku kembali mengagumi keindahan menara ini. Susunan dan konstruksinya membuatku kagum pada Gustav Eiffel yang membuat menara ini dengan apiknya. Bagiku, Paris memang menghadirkan nuansa kota yang berbeda dengan kota-kota lainnya. Ada aura elegan, romantis, dan cantik saat melihat kota Paris. Yah, walaupun hanya melihat dalam gambar, belum bisa secara langsung pergi ke sana, tapi auranya sudah membuatku speechless. Semoga aku bisa menjamah kota itu! ^^

Monday, 24 December 2012

We're The 'Champions', Guys!!


Malam ini, di antara tumpukan materi embriologi, ada suatu rasa yang hadir dalam pikiranku. Rasa yang berbeda dari biasanya. Apapun itu, aku sadar bahwa aku ada.
Kali ini aku belajar dari embrio yang kembali menyadarkanku tentang arti pentingnya hidup ini. Allah swt telah merancang sebegitu sempurnanya proses-proses mulai dari pembuahan sampai sebuah embrio mendetakkan jantungnya. Subhanallah. Aku di sini adalah hasil perjuangan sebuah sperma dan berhasilnya proses pembentukan embrio yang sedemikian rumitnya. Kata orang, “kita adalah juara, kawan”. Ya, dari berjuta-juta sperma yang mencoba masuk ke dalam ovum, hanya satu yang berhasil menembusnya. Bukankah itu adalah anugerah Allah swt yang tak terkira?
                Pelajaran yang bisa aku tanamkan 5 cm di atas keningku (masih terinspirasi film 5cm ^^) adalah bahwa di dunia ini, sekarang ataupun nanti, aku akan menghadapi sebuah persaingan yang tak akan kunjung berhenti. Pasti akan semakin ketat, susah, dan menggoyahkan semangatku. Saat itu, aku berharap aku akan kembali membaca postku ini dan teringat pada semangat yang ada saat aku menulis postingan ini. Yang terpenting adalah bagaimana aku bertahan, bagaimana aku menanamkan api harapan yang tak akan pernah mati sampai kapanpun.

Friday, 21 December 2012

Letakkan Mimpi Itu "5cm" di Atas Keningmu!!


Satu lagi film Indonesia berhasil mengisi perfilman di negeri ini dengan kualitas yang mumpuni. Ya, film itu adalah "5cm" garapan sutradara handal, Rizal Mantovani. Film ini diambil dari novel karangan Donny Dirgantoro dengan judul yang sama dan mengandung tema "mimpi, cinta, dan persahabatan".
Jujur, saat pertama kali melihat novel 5cm, aku mendapati novel itu berada di jajaran buku-buku bertemakan bussinessman. Aku yang sempat tertarik dengan cover novel 5cm menjadi berubah pikiran dan berkata dalam hati, "ah, ini pasti cerita tentang pengusaha sukses dilengkapi dengan istilah-istilah ekonomi yang membosankan". So, aku beralih tanpa memeriksa lebih lanjut apa isi sebenarnya novel 5cm itu. *maafkan aku, om Donny*
Setelah masuk SMA dan mulai menginvasi perpustakaan, aku mendapati novel itu berada di deretan novel remaja. Sempat bingung kenapa novel bussinessman itu berada di rak novel remaja. Tapi, sekali lagi aku tak menghiraukannya karena pikiranku masih diliputi "ah, ini kan novel tentang pengusaha sukses itu". *sekali lagi, maafkan aku, om Donny*
Sampai suatu ketika, novel itu menjadi bahan pembicaraan teman-temanku karena berhasil membuat 2 orang temanku yang super tomboy menangis. Bahkan, temanku yang antinovel menjadi penasaran dan membaca novel itu sampai habis. Mungkin kedengarannya lebay, tapi begitulah kenyataannya. Akhirnya, novel itu sampai di tangan Kiki, sahabatku, dan dia langsung menceritakan resensi novel itu. Ceritanya tentang perjalanan 5 orang sahabat menuju puncak Mahameru membuatku yang menyukai novel-novel petualangan semakin penasaran. Dan, saat aku membuktikannya, ternyata novel itu memang sangat inspiratif. Om Donny berhasil membuatku tidak bosan membuka-buka kembali halaman sebelumnya, membaliknya ke halaman selanjutnya, dan seterusnya. Tak hanya cerita tentang cinta dan persahabatan biasa, tetapi juga tentang perjuangan meraih mimpi dan kecintaan terhadap Tanah Air Indonesia. Semua diceritakan di dalamnya dengan gaya anak muda+cuplikan lirik-lirik lagu yang semakin membangkitkan minatku.
Itulah kenapa tanggal 121212 menjadi sangat spesial buatku. Bukan karena angkanya yang unik, tapi karena hari itu film 5cm tayang perdana. Aku sempat kecewa karena aku harus mendelay menonton film itu karena masih harus melewati ujian pre semester. Tapi masa penantianku tergantikan dengan film yang super keren itu. Banyak film yang membuatku kecewa karena berbeda dengan imajinasiku saat membaca novelnya, tapi berbeda dengan 5cm. Rizal Mantovani dengan apiknya membuat pesan di dalam novel tersampaikan. Yah, terlepas dengan semua kekurangan yang ada di dalam film itu, 5cm tetap menjadi salah satu film terbaik di Indonesia.
Yah, gantungkan cinta, mimpi, tekad, dan keyakinanmu 5cm di depan keningmu, jangan sampai lepas! Jangan pernah bertanya apakah mimpi itu akan terwujud atau tidak, cukup mempercayainya! Kebahagiaan adalah milik mereka yang mempunyai impian, dan punya keberanian untuk berusaha mewujudkannya jadi kenyataan!! Jaya terus perfilman Indonesia! ^^

"Yang kita perlukan cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, leher yang lebih sering mengadap ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, dan mulut yang akan selalu berdoa"

Sunday, 18 November 2012

I won't Give Up - Jason Mraz

When I look into your eyes
It's like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
There's so much they hold
And just like them old stars
I see that you've come so far
To be right where you are
How old is your soul?

I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up

And when you're needing your space
To do some navigating
I'll be here patiently waiting
To see what you find

'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No: I won't give up

I don't wanna be someone who walks away so easily
I'm here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use
The tools and gifts we got, yeah, we got a lot at stake
And in the end, you're still my friend at least we did intend
For us to work we didn't break, we didn't burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I've got, and what I'm not, and who I am

I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up, still looking up.

I won't give up on us (no I'm not giving up)
God knows I'm tough enough (I am tough, I am loved)
We've got a lot to learn (we're alive, we are loved)
God knows we're worth it (and we're worth it)

I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up

Closing Porseni 2012 "Theater of Dreams"! Cethar...

"...
Bersenang-senanglah 
Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan 
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan 
Bersenang-senanglah 
Kar'na waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua
..."

Atas saran dari seseorang yang miris dengan blogku yang nggak pernah aku isi ini, akhirnya aku mulai menyentuh keyboard lagi untuk mengeluarkan apa yang ada dalam kepalaku.
Yak, satu bulan kemarin FK Undip Prodi Pendidikan Dokter ngadain acara terbesar tiap tahunnya, yaitu Porseni 2012. Acara ini diselenggarakan oleh angkatan 2010 alias SOS dan sebagai pesertanya 4 angkatan (2009-2012) ditambah Coass dan Residen. Na, sebagai puncaknya, diadain Closing Porseni di Krakatau Ballroom Hotel Horison, dengan tema "Theater of Dreams". Sebagai seorang mahasiswi semester 1, aku penasaran dengan acara yang mirip semacam pentas seni di SMA itu, apalagi guesst starnya artis ibukota.
Dan inilah sekelumit kelangsungan acara dari closing porseni itu... Makasih buat angkatan 2010 yang udah menyelenggarakan acara ini.

 
 
 Performance by Radius 2012

  Performance by Medallion 2011

 
 
Performance by SOS 2010

 
 Performance by Medusa 2009

Guesst Star, Sheila on 7

Foto dari Kak B.Ramadhan + Tri Setya Ningrum

Sunday, 9 September 2012

Karnaval Pembangunan Desa Kaliabu

Kemarin, hari Sabtu, tanggal 8 Sepetember 2012, desaku tercinta, desa Kaliabu, ngadain suatu event yang udah 5 tahun lebih enggak aku liat. Beruntungnya aku memutuskan hari Jumat pulang ke Magelang, so aku bisa melihat live "Karnaval Pembangunan Desa Kaliabu". Berbagai kesenian tradisional, ungkapan rakyat kecil, kerajinan tangan, dan sebagainya, di'arak' sepanjang lebih dari 8 km. Penontonnya tak hanya masyarakat dari desaku saja, tapi juga desa sebelah, dan bahkan wisatawan asing. Aku bangga terlahir menjadi bagian dari desa kecilku ini. Meski sederhana, setidaknya masyarakat desaku telah memberikan konstribusi terhadap kelestarian budaya bangsa, khususnya dari Magelang. Let's check it out! Inilah sekelumit "view of my village".

Saturday, 8 September 2012

Pahlawan Itu Bernama Pak Prapto



Namanya Pak Prapto. Aku mengenalnya kemarin dengan cara yang tak biasa. Meski aku baru beberapa saat mengenal beliau, beliau sudah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa bagiku. Di sini aku ingin menceritakan bagaimana aku bisa menemukan sosok semulia beliau di tengah kehiruk-pikukan kota Semarang.
Kemarin aku memutuskan pulang ke Magelang karena ada sesuatu yang bersifat pribadi. Bukan karena aku manja, bukan, tapi karena sesuatu yang ingin aku bicarakan 6 mata dengan orang tuaku. Ok, skip curhatanku itu. Menurut jadwal, aku selesai kuliah Biologi pukul 11.30. Kalau aku langsung pulang ke kost, persiapan, langsung berangkat ke terminal Banyumanik, aku akan sampai ke Magelang sebelum Maghrib. Tapi, manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan. Ternyata aku ada kuliah Bahasa Inggris bersama kakak semester 3, 5, 7, dan 8. Oh no! Ini akibat pengganti dosen waliku yang mengharuskan anak walinya mengambil mata kuliah yang nggak begitu aku sukai itu. Jadilah aku selesai kuliah Bahasa Inggris pukul 3 sore. Akhirnya aku buru-buru pulang ke kost. Untung ada Ike yang dengan baik hati me”nebeng”iku sampai kost. Alhasil aku tidak sempat mandi, membawa kebutuhan seperlunya, dan langsung check out. Setelah pamit dengan kakak-kakak di kost, masukin baju laundry, dan mengunci kamar kostku, aku berangkat. Yethie menemaniku sampai ke minimarket untuk beli minuman sampai aku mendapatkan angkot. Di sinilah perjalananku dimulai. *terus dari tadi ngapain aja*
Aku naik angkot Johar-Simpang Lima-Sampangan yang katanya sampai depan RS Kariadi. Dengan sangat yakin menaiki angkot itu. Yang aku tempel di kepalaku adalah “aku harus turun di depan RS Kariadi”! So, sebelum aku sampai di depan RS Kariadi, aku nggak bakal turun dari angkot. Ternyata, sebelum sampai depan RS Kariadi, ada traffic light dan angkot itu belok ke kiri, bukan jalan terus sampai depan RS Kariadi. Aku agak curiga, tapi karena aku keras kepala “sebelum sampai depan RS Kariadi”, aku nggak bakal turun, aku tenang-tenang saja. Sampai beberapa saat kemudian, angkot itu belok ke SPBU dan aku memutuskan untuk bertanya kepada supir angkot itu, “pak, kemana bapak akan membawaku”. *nggak begitu juga* Ternyata angkot itu mengarah ke pasar Johar dan hanya akan kembali ke depan RS Kariadi kalau sudah sampai pasar Johar. Aku memutuskan untuk turun di SPBU itu sebelum tersesat terlalu jauh. Untung sopir angkot itu berbaik hati dan hanya menyuruhku membayar Rp 2000,- rupiah.
Aku menyeberang ke jalan menuju depan RS Kariadi dan melihat bahwa jalan menuju tempat itu sangat jauh sekali. Aku merasa bahwa aku ditakdirkan hidup di Semarang untuk berjalan kaki. Nggak kuliah, nggak foto buku angkatan, nggak mencari makan, dan sampai pulang kampong-pun, aku harus berjalan kaki. Aku hanya memanggil-manggil nama ibuku dan menyemangati diriku dengan tujuanku untuk pulang ke rumah dan terbebas dari kepanasan kota Semarang. Sampai di tengah perjalanan, di depan rumah makan Soto Pak No, aku bertemu dengan seorang bapak tua yang menjadi tukan parkir rumah makan itu.
Ragu, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya kepada bapak tukang parkir itu. Aku bertanya kemana arah yang mesti aku tuju kalau mau ke terminal Banyumanik. Akhirnya bapak itu berkata kalau jalan yang aku lalui dilewati bis yang menuju ke terminal Banyumanik. Akhirya aku menunggu kedatangan bis itu dengan mengobrol bersama bapak itu. Entah karena aku tak tahu harus mencari siapa lagi, sikap waspadaku yang hilang terhadap bapak itu, atau karena bapak itu seorang yang sangat enak diajak mengobrol, entahlah aku tak peduli. Aku hanya terus mengobrol dengan bapak itu.
Beliau berumur 69 tahun dan menjalani pekerjaan sebagai tukang parkir selama + 10 tahun. Melihat bagaimana beliau yang sudah tidak muda lagi, aku salut dengan semangatnya untuk bekerja. Dua anaknya juga telah menjadi orang-orang yang sukses. Anak pertamanya dulu sempat kuliah di Undip juga, tetapi jurusan Hukum dan anak keduanya sudah lulus dari bangku perkuliahan jurusan Ekonomi. Mereka berdua sekarang sudah berkeluarga dan bekerja sebagai PNS serta tinggal di Kalimantan. Aku penasaran kenapa beliau masih mau bekerja sebagai tukang parkir kalau anak-anaknya sudah sukses seperti itu. Ternyata itu adalah kemauan beliau. Anak-anaknya sudah tidak menghendaki ayahnya bekerja, tapi beliau tetap bersikukuh bekerja untuk mengisi masa senjanya. Lebaran kemarin beliau diajak kedua anaknya untuk tinggal bersama mereka di Kalimantan, tetapi beliau tidak mau. Alasannya adalah karena beliau tidak mau meninggalkan pekerjaannya di Semarang. Jadilah hanya istrinya yang ikut anak-anaknya dan meninggalkan beliau sendiri.
Aku semakin penasaran dengan bapak tukang parkir itu. Aku lalu menanyakan dimana tempat tinggal beliau. Ternyata beliau tinggal di Demak, tempat tinggal kakek-nenekku. Merasa sok tahu daerah Demak, aku menanyakan desa tempat tinggal beliau. Tapi, ternyata beliau justru menceritakan pembagian kabupaten Demak dan sejarahnya. Entah kenapa aku tidak merasa bosan saat beliau menceritakannya, mungkin karena aku sangat tertarik dengan kehidupan bapak itu. Usai menceritakan kabupaten Demak, beliau berkata padaku kalau beliau tidak pernah merasa malu bekerja sebagai tukang parkir. Meski teman-temannya sebagian menghabiskan waktu di rumah dan sebagian lagi punya pekerjaan yang lebih tinggi, beliau tidak merasa rendah diri. Apapun pekerjaannya, asalkan halal, semua sah-sah saja di mata beliau. Beliau justru bisa berolahraga dengan berlari memakirkan mobil yang datang, mengobrol dengan taruna-taruna polisi di sekitar situ, dan mengobrol dengan anak muda tersesat sepertiku. Sungguh, berbulan-bulan aku mencari seseorang yang tulus bekerja, baru kemarin aku menemukannya. Mungkin jika aku berperan sebagai pengunjung rumah makan itu, dan jika saja aku tidak tersesat, aku tak akan menemukan orang semulia bapak itu. Saking kagumnya, aku berkata kalau anak-anaknya pasti nggak bakalan malu dan justru bangga punya ayah seperti beliau.
Setelah sekitar 30 menit aku berdiri di depan rumah makan dan bis yang aku tunggu tidak lewat-lewat juga, akhirnya aku mendapatkan telpon dari budheku yang tinggal di perumahan Halmahera, Semarang, dan beliau bersama pakdheku berencana mengantarkanku ke terminal Banyumanik. Aku bertanya pada bapak itu apa nama daerah itu, dan menjawab pertanyaan budheku kalau aku ada di Kaligarang. Ternyata tempat itu masih sangat jauh dari Banyumanik dan saat itu sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Saat menunggu kedatangan mereka, percakapanku dengan bapak itu berlanjut. Meski beliau baru mengenalku beberapa menit sebelumnya, beliau khawatir kalau melihat ada anak muda, perempuan, sendirian, dan buta arah sepertiku, menempuh perjalanan malam hari. Memang waktu itu sudah menunjukkan pukul 5 sore dan sudah dipastikan aku akan sampai Magelang pukul 10 malam akibat kemacetan yang tak terduga. Beliau ingin mengantarkanku terminal Banyumanik tapi berhubung pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan, beliau menyarankanku untuk pulang ke kost atau menginap di budheku. Beliau khawatir bis-bis yang seharusnya lewat jalan itu sedang berdemonstrasi akibat huru-hara yang terjadi sekitar Lebaran lalu karena bis-bis harus menuju ke terminal Mangkang yang letaknya lumayan jauh, bukan ke terminal Terboyo yang letaknya strategis.
Percakapan kami berlanjut hingga bertukar pendapat tentang pemerintah yang berencana membangun jalan layang di sekitar Bandara. Berbagai keadaan politik, ekonomi, sosial, dan budaya beliau utarakan, dan membuatku semakin kagum pada beliau. Lihatlah, bagaimana aku, seorang mahasiswa saja, ada yang tak kutahu dari penuturan bapak itu yang notabene seorang tukang parkir. Aku menjadi semakin tertarik bagaimana bapak itu mendapatkan pengetahuan yang sedemikian luasnya. Selain karena tertarik, jujur inilah kesempatanku untuk berlatih public speaking sebelum benar-benar menjadi dokter nantinya. Beliau ternyata suka sekali membuat kliping dari Koran dan disewakan ke anak-anak SMP atau SMA yang membutuhkan. Beliau selalu memisahkan mana berita politik, mana berita olahraga, mana berita tentang selebriti, dan sebagainya. Dan ternyata bapak itu juga bekerja sebagai seorang pelatih tari dan gamelan di suatu sanggar di Demak. Aku berkata kalau harusnya bapak itu mengajariku menari. Haha
Percakapanku sampai pada identitas sebenarnya bapak itu. Karena aku sangat tertarik dengan orang-orang seperti bapak itu sekaligus siapa tahu aku bisa bertemu beliau lagi, aku menanyakan namanya. Nama bapak itu adalah pak Prapto. Ternyata dulu beliau bekerja sebagai kepala sekolah suatu SD di Demak. Dengan percakapan kami yang itu, aku berani mengatakan siapa namaku. Beliau berkata, “beberapa tahun lagi namanya menjadi dr. Debby Fatmala.” Amin, Ya Allah…
Senja mulai menyinari Semarang tercinta. Percakapanku dengan Pak Prapto harus diakhiri mengingat mobil pakdheku sudah terlihat menuju ke arahku. Saat budheku turun menghampiriku, budheku berkata kepada pak Prapto, “ini keponakanmu!” Ya Allah, begitu sempitkah dunia ini? Atau betapa sayangnya Engkau mengirimkan orang semulia beliau untukku? Kawan, bapak tukang parkir itu adalah pakdheku, saudara sepupu dari budhe dan ibuku. Alhamdullillah, aku bertemu dengan pak Prapto, eh Pakdhe Prapto. Ya Allah, ini tak akan terjadi tanpa kehendak-Mu.
Itulah sekelumit ceritaku tentang seseorang yang sangat mulia di negeri ini. Buka mata hati kita dan kita akan menemukan bahwa di negeri yang penuh dengan kebrobokan ini, masih ada seseorang yang masih setia mempertahankan prinsip hidup yang begitu mulia! Makasih, Ya Allah, makasih pakdhe Prapto!